This site has limited support for your browser. We recommend switching to Edge, Chrome, Safari, or Firefox.

Use coupon code WELCOME10 for 10% off your first order.

Cart 0

Congratulations! Your order qualifies for free shipping You are Rp 200 away from free shipping.
No more products available for purchase

Products
Pair with
Is this a gift?
Subtotal Free
Shipping, taxes, and discount codes are calculated at checkout

DON'T FEEL BLUE


SKU: ART-MSG-07056011567
Rp 10.000.000

TENTANG KARYA:

Judul Karya: Don't Feel Blue
Ukuran: 120 x120 cm
Media: Acrylic On Canvas
Seniman: Favian Ra (Grup MSG Collective)

Deskripsi:
Karya ini akrab dengan kesedihan, di mana warna biru menjadi bahasa lembut untuk mengatakan: “Saya sedang tidak baik-baik saja.” Biru memenuhi kanvas seperti rasa sedih yang datang, sementara putih muncul sebagai cahaya kecil di tengahnya, melambangkan harapan dan penerimaan. Bentuk-bentuk yang saling mengikat mewakili aliran pikiran dan emosi yang kadang bertabrakan, kadang menguatkan hingga akhirnya menemukan iramanya sendiri. Karya ini mengingatkan bahwa kesedihan bukan akhir atau tanda kelemahan, melainkan ruang untuk menoleh ke dalam, memahami diri, dan melihat keindahan dalam luka.

Description:
This artwork is intimate with sorrow, where blue becomes a gentle language saying, “I am not okay.” Blue fills the canvas like the sadness that arrives, while white appears as a small light within it, symbolizing hope and acceptance. Intertwined forms represent the flow of thoughts and emotions, sometimes clashing, sometimes strengthening, until they find their own rhythm. The artwork reminds us that sadness is neither an end nor a sign of weakness, but a space to turn inward, understand oneself, and see the beauty within the wound.

 

TENTANG SENIMAN:

MSG Collective (Jakarta)
Dibentuk pada tahun 2022, MSG Collective merupakan kelompok seniman visual yang fokus pada pengalaman personal, emosi, dan dinamika kehidupan urban. Karya-karya mereka berfungsi sebagai arsip personal yang merekam perasaan, trauma, dan pertanyaan eksistensial. Dengan eksplorasi garis, bentuk, dan warna, MSG Collective menghadirkan praktik seni kontemporer yang menyoroti identitas, masalah hidup, dan kemungkinan transformasi pengalaman gelap menjadi sesuatu yang bermakna. Kolektif ini membawa perspektif yang reflektif dan emosional, sekaligus relevan dengan kehidupan kota modern.

Anggota:

    • Gani Gaber merupakan seniman dan desainer kreatif lulusan Desain Komunikasi Visual Trisakti University. Sejak 2017, ia aktif berpameran di berbagai galeri dan acara seni di Indonesia, termasuk pameran tunggal Me Voice (Trisakti University), Rupa-Rupa Molekul (2Madison Gallery), serta rutin berpartisipasi di Art Moments Jakarta bersama V&V Gallery.

    • Mivetboi merupakan seniman visual dari Jakarta yang merekam perasaan, pertanyaan, dan momen sehari-hari melalui garis, bentuk, dan warna. Karyanya mengajak penonton berhenti sejenak, merasakan, dan merenungkan cerita-cerita kecil yang kita bawa dalam diri.

    • Favian Ra merupakan seniman dan visual designer dari Jakarta yang karyanya menceritakan bagaimana pengalaman buruk dapat berubah menjadi sesuatu yang indah. Ia menekankan bahwa emosi, kesalahan, dan masalah adalah bagian dari kehidupan, dan cahaya hanya bisa hadir bersamaan dengan kegelapan tergantung cara kita menghadapinya.

    • Fildzayu merupakan seniman yang menciptakan karya puitis dan imajinatif, menangkap dunia yang terasa sepi namun penuh makna. Karyanya sering menampilkan momen-momen ganjil, seperti karnaval yang berputar tanpa henti, lanskap yang berubah, dan figur misterius, mengajak penonton merenungkan hal-hal yang hilang dan tersembunyi dalam kehidupan sehari-hari.

    • Toxicmotel merupakan seniman visual yang menggabungkan estetika psychedelia, surealisme, dan glitch digital. Lukisan akriliknya menampilkan warna berani, citra mimpi, dan distorsi digital, menawarkan pengalaman visual imersif sekaligus menantang persepsi penonton.

    • Hagatara merupakan fotografer freelance yang berbasis di Jakarta. Lulusan Fotografi dari RMIT University, Melbourne (2010), karyanya mengeksplorasi sifat realitas yang terus berubah, menelusuri ketidakkekalan persepsi, dan ketegangan halus antara apa yang terlihat dan apa yang dirasakan.

[{"variant_id":"51330732392765" , "metafield_value":""}]

DON'T FEEL BLUE

Rp 10.000.000