This site has limited support for your browser. We recommend switching to Edge, Chrome, Safari, or Firefox.

Use coupon code WELCOME10 for 10% off your first order.

Cart 0

Congratulations! Your order qualifies for free shipping You are Rp 200 away from free shipping.
No more products available for purchase

Products
Pair with
Is this a gift?
Subtotal Free
Shipping, taxes, and discount codes are calculated at checkout
A profound original art acrylic painting titled "Chieftain" by Ricki Roganda Sitepu at 2madison Gallery. This Contemporary Ethno-Surrealism work features a tribal leader with symbolic white fern leaves over the eyes and ears against a turquoise background, representing the creative excellence of Contemporary art Asia found in our Art Gallery Indonesia and Asian Gallery collection.

SKU: ART-SRT-07056011518
Rp 5.000.000

TENTANG KARYA:

Judul Karya: Chieftain
Ukuran: 40 x 35 cm
Media: Acrylic on Canvas
Seniman: Ricki Roganda Sitepu (Grup Sarang Tengah)

Deskripsi:
Karya ini lahir dari pengamatan terhadap peran pemimpin adat sebagai suara nurani masyarakat. Kepala suku digambarkan memimpin dengan rasa, menjaga tradisi sebagai ingatan kolektif, serta setia merawat alam sebagai sumber kehidupan manusia. Sebagai representasi Surealisme Etnis Kontemporer yang kuat, lukisan karya Ricki Roganda Sitepu ini merupakan bagian penting dari kancah Seni Kontemporer Asia. Koleksi ini dikurasi secara eksklusif oleh 2madison Gallery, sebuah Galeri Seni Indonesia yang berfokus pada kedalaman narasi budaya di Asian Gallery.

Description:
This artwork was born from the artist’s observation of the tribal chief as the voice of the people’s conscience, leading with empathy and preserving traditions. The chief faithfully cares for nature as an essential source of life for future generations. A compelling example of Contemporary Ethno-Surrealism, this piece by Ricki Roganda Sitepu is a significant highlight of Contemporary art Asia. It is proudly showcased at 2madison Gallery, a premier Art Gallery Indonesia and prominent Asian Gallery dedicated to exploring indigenous wisdom through modern art.

 

TENTANG SENIMAN:

Sarang Tengah Art Collective (Surakarta, Bondowoso, Banyuwangi, Surabaya).
Sarang Tengah didirikan pada November 2022 sebagai wujud semangat mahasiswa untuk memiliki ruang berekspresi di luar ranah akademik. Kolektif ini menjadi wadah bagi anggotanya untuk berdiskusi, berkarya, dan mendukung proses kreatif satu sama lain. Sarang Tengah aktif dalam berbagai pameran dan proyek komunitas, mulai dari pameran perdana hingga mural publik, sambil terus mengeksplorasi semangat kolektif dan kreativitas. Kehadirannya menjadi simbol ruang kreatif yang mendukung pertumbuhan dan pembelajaran bersama tanpa kehilangan arah.

Anggota:

  • Abdul Irsyad, seniman yang menggabungkan ingatan personal, budaya pesisir, dan spiritualitas dalam karya visualnya. Ia sering menggunakan pipa yang saling terhubung dan figur bermotor sebagai simbol kebebasan, energi, dan perlawanan. Karyanya telah dipamerkan di Ruwat Rawat (Tuban) dan Kita Orang Blue & White (Malaysia).

  • Hafidh Nur Alfarizi, seniman yang menciptakan lukisan dekoratif dengan figur robot sebagai karakter utama. Karyanya mengeksplorasi perubahan perilaku generasi muda akibat teknologi yang menggeser nilai-nilai budaya timur. Melalui figur robot dan lego yang meniru tradisi, Hafidh menghadirkan kritik sekaligus harapan agar nilai budaya lama tetap dikenali dan dipraktikkan.

  • Imam Bawon, seniman yang memandang seni sebagai medium reflektif dan ekspresi personal. Karyanya menekankan kesadaran ekologis melalui visual yang lahir dari keheningan, menyoroti hubungan manusia dengan alam. Dengan imaji dedaunan, angin, dan kehidupan kecil di bebatuan, Imam mengajak audiens menyadari bahwa menjaga alam adalah rangkaian sikap kecil, bukan aksi monumental, sekaligus menemukan kejujuran dan kemanusiaan dalam kesederhanaan.

  • Ricki Roganda, seniman yang menggunakan seni sebagai medium untuk menyuarakan realitas sosial dan lingkungan yang sering terabaikan. Karya-karyanya ekspresif, menampilkan goresan spontan, tekstur kasar, lapisan warna dinamis, dan komposisi emosional yang menangkap ketegangan antara harapan dan kenyataan, sekaligus membuka ruang dialog tentang hubungan manusia dengan lingkungan dan jejak yang ditinggalkannya.

  • Rusdan Efendi, karyanya berangkat dari pengalaman hidup dan perpindahan ruang. Awalnya, fokusnya banyak menyoroti kehidupan pondok pesantren sebagai sumber nilai dan identitas. Seiring waktu, ia mengeksplorasi tema adaptasi sebagai negosiasi antara nilai lama dan konteks baru. Figur manusia bunglon menjadi metafora visual kemampuan bertransformasi, berbaur, dan menyesuaikan diri tanpa kehilangan jati diri.

  • Rizky Romansyah, seniman asal Surakarta yang menampilkan simbol-simbol budaya Jawa, seperti Klono, Punakawan, dan kapal Majapahit, yang dideformasi dan dipadukan dengan elemen kontemporer, menciptakan dialog antara tradisi dan realitas modern.

  • Toad Nur Alim, seniman yang menghadirkan figur boneka bergaya animasi/kartun sebagai simbol nostalgia, emosi, dan kerentanan batin. Karyanya memadukan dunia imajinatif dan refleksi psikologis, merangkai ingatan personal ke dalam bahasa visual yang akrab bagi generasinya.

[{"variant_id":"51329818067261" , "metafield_value":""}]

CHIEFTAIN

Rp 5.000.000