The Lucky Flower

Rp 18.000.000
SKU: ART-DST-0003449120

Tentang Karya :

Ukuran : 80 x 100 cm
Media : Acrylic, Crayon on canvas

Indonesia

Pada suatu kepercayaan tertentu, Wijayakusuma adalah bunga yang memiliki kekuatan supranatural. Bunga Wijayakusuma mekar pada malam hari. Apabila bisa melihat proses mekar bunga tersebut, maka keinginan kita terkabul. Mitos itu ada dan tumbuh dalam masyarakat Jawa, sehingga bunga ini dipercaya juga membawa keberuntungan bagi yang menanamnya. Pada masa kerajaan Mataram Islam di Surakarta dan Yogyakarta, ada mitos jika memetik bunga Wijayakusuma, maka Raja yang akan dilantik dapat memerintah kerajaan penuh dengan kesejahteraan. Tapi karya ini bukan tentang mitos-mitos bunga Wijayakusuma. Lukisan ini muncul dari pengalaman batin melihat Bunga Wijayakusuma yang indah rupanya dan elok wujudnya, namun singkat sukmanya. Munculah gambaran dua makhluk yang sedang merayu antara bunga kala malam dan subuh. Maka terciptalah khayalan tentang rayuan bunga Wijayakusuma kepada malam; kepada Subuh.

English

In certain beliefs, "Wijayakusuma" is considered a flower with supernatural powers. According to myth, these flowers bloom at night; if one witnesses the blooming process, their wish will come true. This myth grows in Javanese society, where the flower is believed to bring good luck to those who plant it. During the Islamic Mataram kingdom in Surakarta and Yogyakarta, there was a belief that picking the Wijayakusuma flower could bring prosperity to the kingdom's ruler. However, this painting isn't about the myths surrounding the Wijayakusuma flower. Instead, it emerged from an inner experience of observing the Wijayakusuma's beauty in appearance and form. An image appears of two creatures courting flowers at night and dawn, creating a fantasy of seduction amidst the Wijayakusuma into the night to dawn.

Tentang Seniman :

Desta Aji Saputra lahir pada tahun 1995 di Boyolali. Ia merupakan lulusan S1 dari Institut Seni Indonesia Surakarta dan sudah berkarya lebih dari 2 tahun. Saat ini, Desta sedang menekuni teknik decalcomania yang diadopsi dari Max Ernest. Ia suka menggambar karakter-karakter yang ia dapati dari pembacaan novel ‘Centhini’ karya Elizabeth D Inandiak.

Desta Aji Saputra was born in 1995 in Boyolali. He graduated with a bachelor's degree from the Indonesian Institute of the Arts in Surakarta and has worked for over two years. Currently, Desta is pursuing the decalcomania technique adopted by Max Ernst. 
He enjoys drawing characters inspired by the novel 'Centhini' by Elizabeth D. Inandiak.

Exhibition :

  • Pameran Seni Eksperimental, Surakarta
  • Pameran Gatra Nusantara, UNIMAS art gallery Malaysia
  • Pameran ‘Kita Hari Ini’, Bandung
  • Pameran virtual ‘ Pameran Dari Rumah’, Kemenparekraf
  • Pameran ‘Manifesto VII Pandemi’, Galnas Jakarta
  • Pameran ‘ Melukis Asa’, UOB Painting Of The Year 2021
  • Pameran ‘ Nandur Srawung 8; Ecosystem/Pranatamangsa’, Taman Budaya Yogyakarta 2021
  • Pameran ‘ Nandur Srawung 9; Matrix/Mayapada’, Taman Budaya Yogyakarta 2022

Customer Reviews

Be the first to write a review
0%
(0)
0%
(0)
0%
(0)
0%
(0)
0%
(0)